Producer

Bapak Beni Firmansyah / Ibu Ratih Indhi

Hp. 08119856875

Jumat, 30 April 2010

Jahe Tangani Disfungsi Ereksi?


Makanan sehat yang tergolong dalam rempah-rempah ini sering dikenal dengan rimpang umbi semu tanaman berumpun yang hidup semusim. Konon si pedas ini berasal dari daratan Asia dan ditemukan oleh Marcopolo.

Kita ketahui jahe sebagai bahan pengobatan alami selama berabad-abad. Manfaatnya untuk kesehatan memang sudah tidak diragukan lagi, dalam penelitiannya, kandungan enzim protease dan lipase yang terkandung dalam jahe berfungsi memecah protein dan lemak yang membantu mencerna dan menyerap makanan sehingga meningkatkan nafsu makan. Selain itu senyawa aseton dan methanol pada jahe juga mempu menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan, melindungi sistem pencernaan dengan menurunkan keasaman lambung dan juga menghambat produksi prostaglandin, hormone dalam tubuh yang dapat memicu peradangan.

Jika kita rajin mengkonsumsi jahe sesuai dengan takaran kegunaannya, mengutip ahli gizi dan kuliner, Budi Sutomo S.Pd, senyawa cineole dan arginine yang terkandung dalam rimpang jahe mampu mengatasi ejakulasi prematur. Senyawa ini juga merangsang ereksi, mencegah kemandulan dan memperkuat daya tahan sperma. Banyak orang menjulukinya sebagai aphrodisiac food atau makanan pendongkrak gairah seksual.

Suara lelaki cybernews memberikan resep herbal alami jahe untuk pengobatan disfungsi ereksi yang dapat Anda terapkan.


Sumber : Suara Merdeka, Semarang

Khasiat Antanan / Pegagan


Antanan ( Centella asiatica ) merupakan tanaman herba menahun, tumbuh liar pada tanah lembab, seperti pematang, tepian parit, atau tebing tanah. Berbatang merayap, banyak menghasilkan cabang, dan membentuk rumpun.Dulu tanaman ini ditemukan dalam rujak-cuka bersama keratan sayur dan umbi-umbian lain. Sekarang, walau dalam jumlah terbatas, masih bisa dijumpai untuk lalap di rumah makan ala Sunda. Para petani pun sering menyantapnya sebagai teman makan siang di sawah karena antanan termasuk jenis lalap yang digemari dan berkhasiat untuk menjaga kesehatan. Penyantapnya jadi jarang terserang penyakit musiman, seperti flu, demam, bahkan batuk-batuk. Dalam pengobatan tradisional Cina, antanan menempati tempat teratas, di samping jamur lingzhi ataupun ginseng, karena kemampuannya mengobati banyak penyakit.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa antanan berkhasiat ampuh memulihkan sistem kerja tubuh, menurunkan kolesterol dan gula darah, menstabilkan kerja hormon tubuh, sehingga bisa membuat seseorang panjang umur karena kesehatan dan kebugarannya terjaga.Menurut Hembing Wijayakusuma (1992), antanan, pegagan, " ji xue cao " mengandung senyawa-senyawa berkhasiat obat, seperti asiatikosida (t riterpenoids ), k arotenoids , asam madasiatika, mesoinositol , serta sederet garam-garam mineral bermanfaat. Tidak heran kalau tanaman ini digunakan di banyak kawasan Asia dan Afrika untuk menangkal penyakit lepra, campak, hepatitis, demam, bronhitis, radang amandel, keracunan logam berat, muntah darah, wasir, cacingan, juga penambah nafsu makan.

Sumber: Kompas, 2002

Jumat, 23 April 2010

Obat Tradisional Bronkhitis

Bronkhitis merupakan radang pada bronki (bagian system pernafasan yang mengangkut oksigen ke paru-paru sehingga mengeluarkan lender. Lendir akan memicu terjadinya batuk-batuk untuk menyingkirkan kelebihan lender.
Bronkhitis ditandai dengan batuk yang terus-menerus disertai dengan dahak dan bercak darah.
Bronkhitis akut, disebabkan oleh pilek dan flu, yang umumnya akan sembuh dalam 1-2 minggu, sedangkan penyebab bronchitis kronis adalah zat iritan, rokok, infeksi saluran pernafasan, atau alaergi.
Pengobatan (Pilih salah satu resep di bawah ini ):
Ramuan Obat Tradisional 1 :
Rebus 25 gram kulit ari kacang tanah dengan 600 cc air hingga airnya mengental, saring ramuan kemudian tambahkan gula merah secukupnya.
Pemakaian : Minum selagi hangat. Konsumsi secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan 10-12 hari pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisional 2 :
Kaktus gepeng sebanyak 30 gram dikupas kulitnya, diiris-iris, kemudian tambahkan gula batu secukupnya lalu direbus dengan air secukupnya.
Pemakaian : Minum selagi hangat. Konsumsi secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan 10-12 hari pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisional 3 :
15 gram jahe dan 30 gram daun pegagan/antanan diiris-iris, kemudian direbus dalam 500 cc air hingga tersisa 250 cc.
Pemakaian : Minum selagi hangat. Konsumsi secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan 10-12 hari pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisional 4 :
1 buah pisang ,1 buah pir, ¼ buah nanas, dan 1 sendok the garam dijus kemudian diminum.
Pemakaian : secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan selama 10-12 hari, pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisional 5
10 gram kulit jeruk mandarin kering ,75 gram jali, , dan gula batu secukupnya direbus dengan air secukupnya kemudian airnya diminum selagi hangat dan jalinya dimakan.
Pemakaian : secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan selama 1 kiur (10-12 hari), pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisional 6
Akar terung dikeringkan kemudian digiling hingga menjadi bubuk. Sebanyak 10-15 gram bubuk akar terung diseduh dengan air panas secukupnya, aduk-aduk, kemudian diminum.
Pemakaian : secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan selama 1 kiur (10-12 hari), pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisional 7
Tambahkan madu secukupnya dengan 3 buah kesemek segar (dikupas dan dipotong-potong), kemudian direbus dengan air secukupnya. Airnya diminum selagi hangat dan kesemeknya dimakan.
Pemakaian : secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan selama 1 kiur (10-12 hari), pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisional 8
Rebus 30 gram bayam duri segar dan garam secukupnya dengan air. Kemudian airnya diminum selagi hangat dan bayamnya dimakan.
Pemakaian : secara teratur 2 kali sehari. Setelah dilakukan selama 1 kiur (10-12 hari), pengobatan dihentikan selama 3 hari. Setelah itu, pengobatan dapat dilanjutkan kembali.
Ramuan Obat Tradisionl 9
Cuci bersih 75 gram daun beringin segar dan 18 gram kulit jeruk mandarin, lalu direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Setelah ramuan dingin, saring dan bagi menjadi 3 bagian.
Pemakaian : Minum pada pagi, siang, dan malam hari. Lakukan selama 10 hari.
Ramuan Obat Tradisional 10
1 gram biji bungli , 5 gram akar manis, 7 gram kencur dihaluskan, lalu dicampur dengan 110 ml air matang, peras.
Pemakaian : Minum 1 kali sehari sebanyak 100 ml. Lakukan selama 4 hari.

Oleh : Aris Haryana diolah dari berbagai sumber.

Selasa, 20 April 2010

Photo Kirim Temulawak,Kunyit Putih




PHOTO KIRIM APRIL


Temulawak Mampu Membunuh Bakteri Penyebab Penyakit Gigi dan Hambat Sel Kanker


Xanthorrhizol dalam temulawak mampu membasmi bakteri patogen penyebab karang gigi. “Kami menemukan xanthorrizol yang diisolasi dari Curcuma xanthorrhiza memiliki aktivitas anti kariogenik dan anti inflammatory,” kata Prof. Jae Kwan Hwang dari Departemen Bioteknologi Universitas Yonsei, Korea Selatan dalam acara Simposium Internasional Pertama Temulawak bertajuk ‘Curcuma xanthorrhiza as an Essential Indonesian Herbal Medicine toward Healthy Life’ Selasa (27/5) yang digelar Pusat Studi Biofarmaka (PSB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB di IPB International Convention Center (IICC).
Kandungan xanthorrhizol dalam temulawak sebanyak 21 persen. Kelebihan senyawa xanthorrhizol antara lain tidak berwarna, tidak berbau, tidak volatil (menguap), tahan panas dan keasaman. Sayangnya senyawa ini rasanya sangat pahit.
Prof. Jae Kwan menjelaskan hasil penelitian menunjukkan Xanthorrhizol memiliki aktivitas antibakeri tertinggi dalam melawan bakteri jenis Streptococcus. Khususnya Streptococcus mutans, penyebab karies gigi. Hanya dengan dua mikro gram per milliliter, Xanthorrhizol berhasil membasmi Streptococcus mutans dalam semenit. Xanthorrhizol juga membasmi Actinomyces viscosus dan Porphyromonas gingivalis penyebab penyakit periodontitis (gigi berdarah dan lepasnya gigi).
Temulawak atau dalam Bahasa Inggris disebut java turmeric ini, secara tradisional digunakan untuk menyembuhkan penyakit perut, hati, konstipasi, pembuluh darah pecah, demam anak-anak, kulit kasar, disentri dan sebagainya. Dilaporkan curcuma xanthorrhizol juga memiliki kemampuan antitumor, anti kanker, anti diabetes, hipotriceriakademik, anti inflamantori, hepatoprotective, anti mikroba, dan anti lemak.
“Dengan teknologi modern, Korea Selatan telah memproduksi pasta gigi, minuman dan makanan fungsional, produk kosmetik, disinfektan, obat-obatan dan berbagai peralatan rumah tangga berbahan baku temulawak,” jelas Prof. Jae Kwan. Di Korea Selatan temulawak dikenal dengan nama yellow curcuma.
Tantangan pengembangan industri obatan-obatan berbahan dasar temulawak di Indonesia yang perlu diperhatikan, kata Prof. Jae Kwan, antara lain: budidaya dan standar temulawak yang sesuai industri, teknologi ekstraksi dan penghilang flavour yang kuat, formulasi yang tepat, serta keamanan dan uji klinis pada manusia. Prof. Jae Kwan menyarankan didirikannya Pusat Studi Temulawak Nasional.
Prof. Ikuo Saiki dari Bagian Pharmacognosy Departemen Natural Medicine, Universitas Toyama Jepang menyampaikan kemampuan kunyit dalam menghambat dan membunuh sel kanker. Hepatocellular carcinoma (HCC), salah satu tumor paling terkenal di dunia, dan penyakit kanker ketiga yang menyebabkan kematian kaum pria di Jepang.
“Kami mendemonstrasikan secara oral pada mencit yang terkena HCC. Hasilnya temulawak berhasil mendorong proses penghambatan metastatis dan sel tumor,” kata Prof. Ikuo Saiki. Sedangkan dengan metode in vitro, temulawak menyebabkan perubahan formasi stress fiber (urat stress) dalam sel kanker. Ini berarti temulawak mungkin telah menghambat satu atau beberapa protein penghambat. Protein (protein binding) tersebut dikenal dengan Rho family Glucose Tri Phosphate. Protein ini menutup aktivasi protein kinase C (PKC). Namun demikian, menurut Prof. Ikuo, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengklarifikasi temuan ini.
Sementara itu, Kepala Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, Prof. Lathifah K. Darusman mengatakan simposium internasional pertama ini diikuti lebih dari 250 peserta dari berbagai negara, diantaranya; Cina, India, Singapura, Malaysia, Belanda, Korea, dan Jepang . “Dalam simposium ini akan menampilkan sepuluh pembicara kunci dari berbagai negara tersebut. Selain itu menampilkan 28 presentasi penelitian dan 54 presentasi poster,” ujar Prof. Latifah.
Dalam sambutannnya, Rektor IPB, Dr. Herry Suhardiyanto menjelaskan masyarakat Indonesia terbiasa menggunakan bahan alami dari pengetahuan nenek moyangnya. Rektor mencontohkan penggunaan tanaman obat, hewan dan mikroba sebagai pencegah dan penyembuh alternatif, termasuk sebagai food suplement. ” IPB yang memiliki core competences di bidang pertanian tropis juga turut berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan penelitian biofarmaka di Indonesia.” Salah satunya, menurut Rektor dengan mendirikan pusat studi yang fokus pada pengembangan biofarmaka. IPB bekerjasama dengan pemerintah berkontribusi dalam menetapkan kebijakan nasional biofarmaka di Indonesia. “Sebagai bentuk nyata peran IPB tersebut pada hari Kebangkitan Jamu Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Mei ini, IPB menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan University of Chinese Medicine dari Cina,” kata Rektor.
Kerjasama ini mencakup investigasi seleksi obat-obatan herbal yang digunakan di Indonesia dan Cina, training obat-obatan herbal, dan pengembangan kurikulum pendidikan obat-obatan herbal di Indonesia. Dalam rangka kerjasama ini, IPB diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di istana negara hari itu juga.
Simposium dan Ekspo yang terselenggaran berkat kerjasama dengan Departemen Kesehatan, Kementrian Koordinasi Ekonomi, Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan, Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM), Kementrian Koordinasi Kesejahteraan, Asosiasi Obat-obatan Tradisional dan Herbal Indonesia, Universitas Yonsei Korea Selatan dan Universitas Pakuan ini berlangsung tiga hari.